no image

19 August 2026 - 21:41

Yogyakarta - Perbedaan ekspektasi karir antara siswa dan orang tua merupakan issu yang cukup menarik untuk dibahas. Perbedaan zaman merupakan pemicu perbedaan ini. Orang tua yang sebagian besar merupakan generasi X berkeinginan putra/putrinya untuk melanjutkan studi di program studi yang dapat memberikan kepastian karir. Orang tua masih berpikir anaknya dapat bekerja kantoran karena pekerja kantor mayoritas memiliki kestabilan finansial, sehingga masa depan anaknya akan terjamin. Berbeda dengan pendapat anak muda sekarang yang merupakan generasi Z, mereka sekarang lebih menyukai pekerjaan bukan kantoran, namun remote job dengan penghasilan yang lebih tinggi jika dibandingkan para pekerja kantoran. Perbedaan generasi membuat terjadinya konflik tersebut. Siswa Gen-Z tumbuh dengan akses informasi karir yang sangat cair dan lintas batas sedangkan orang tua berpegang pada jenis karir yang aman dan stabil. Perbedaan pendapat inilah yang memicu konflik orang tua dan anak.

Terkait dengan pekerjaan, orang tua akan cenderung menginginkan anaknya memilih program studi yang nantinya akan mengarah kepada karir yang stabil, seperti dokter, pengacara, guru, dll. SMA adalah masa krusial sebagai titik awal persiapan pemilihan karir. Setelah SMA, anak harus memilih melanjutkan kuliah di program studi tertenu yang terkadang berbeda dengan keinginan orang tua. Banyak orang tua memaksa anaknya untuk memilih program studi yang mereka inginkan karena setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Anak, terkadang merasa tidak nyaman dengan pilihan orang tua. Disinilah peran guru BK dalam menjembatani perbedaan ekspektasi tersebut. 

Menanggapi hal tersebut, STBA LIA Yogyakarta mengadakan seminar untuk guru BK bertajuk Teknik Segitiga Konseling: Strategi Guru BK Memediasi Konflik Ekspektasi Karier antara Siswa dan Orang Tua. Dalam seminar yang diikuti oleh 54 guru BK se DIY tersebut, Ibu A'yunin Akrimni Darojat, S.Psi., M.Psi., Psikolog menyampaikan strategi untuk menjembatani hal tersebut. Konsep triangulasi dalam teori sistem keluarga Bowen memberikan insight bahwa ketika dua pihak berada dalam tekanan emosional, maka kehadiran pihak ketiga yang stabil dapat meredakan intensitas konflik tanpa memihak. Disinilah peran guru BK. Dalam seminar ini, selain penyampaian materi, Ibu A'yunin juga mengajak guru BK untuk berlatih menjadi mediator dalam konflik karir orang tua dan anak. 

Suasana aula STBA LIA Yogyakarta menjadi meriah pada saat latihan tersebut. Dalam kelompok berisi tiga orang, satu menjadi orang tua, satu menjadi siswa, dan satu lagi menjadi guru BK. Dengan penuh semangat, guru-guru BK mencoba untuk berlatih sesuai peran masing-masing. Kegiatan menjadi semakin seru pada saat guru berusaha menjadi siswa SMA kembali. Semoga dengan kegiatan ini, guru BK akan memiliki lebih banyak ketrampilan dalam menjembatani konflik ekspektasi karir antara orang tua dan siswa.