Pernah bertanya-tanya mengapa wisudawan mengenakan toga, memakai topi persegi, dan mengikuti prosesi akademik? Atau mengapa lagu berbahasa Latin Gaudeamus Igitur terdengar dalam sejumlah upacara kelulusan?
Di balik tradisi tersebut, ada sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan universitas di Eropa sejak Abad Pertengahan. Pakaian akademik, prosesi, dan lagu mahasiswa yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadi bagian dari identitas pendidikan tinggi.
Namun, tidak semua tradisi wisuda memiliki satu asal-usul yang pasti. Beberapa berkembang secara bertahap, sementara makna simbolnya dapat berbeda menurut negara dan perguruan tinggi.
Yuk, kenali cerita di balik tradisi wisuda yang membuat momen kelulusan terasa istimewa!
1. Sejak kapan tradisi wisuda dikenal?
Universitas-universitas awal di Eropa berkembang pada sekitar abad ke-11 hingga ke-13. Bologna, Paris, Oxford, dan Cambridge merupakan beberapa pusat pendidikan tinggi yang berperan penting dalam sejarah universitas.
Pada masa itu, universitas merupakan komunitas pengajar dan pelajar dengan aturan, kebiasaan, serta struktur akademik tersendiri. Pakaian yang dikenakan anggotanya mengikuti kebiasaan masyarakat pada zamannya, termasuk pakaian panjang dan jubah yang juga digunakan oleh kalangan rohaniwan.
Seiring perkembangan universitas, pakaian tertentu mulai dipertahankan sebagai bagian dari identitas akademik. Tradisi pemberian gelar dan upacara akademik juga berkembang mengikuti aturan masing-masing institusi.
Tradisi tersebut kemudian mengalami perubahan dan menyebar ke berbagai negara. Bentuk upacara wisuda modern tidak sepenuhnya sama dengan praktik pada Abad Pertengahan, tetapi masih mewarisi sejumlah simbol dari sejarah pendidikan tinggi Eropa.
Dengan demikian, wisuda yang kita kenal sekarang merupakan hasil perkembangan tradisi akademik selama berabad-abad, bukan sebuah upacara yang diciptakan sekaligus pada satu waktu.
2. Mengapa wisudawan memakai toga?
Jubah wisuda memiliki hubungan historis dengan pakaian panjang yang digunakan di lingkungan akademik Eropa pada Abad Pertengahan. Pakaian akademik Inggris berkembang dari pakaian sehari-hari pada masa itu, yang antara lain terdiri atas tunik dan jubah luar. Universitas awal di Eropa Utara juga memiliki hubungan erat dengan komunitas keagamaan, sehingga pakaian akademiknya dipengaruhi oleh kebiasaan berpakaian kalangan rohaniwan.
Pakaian panjang tersebut memiliki fungsi praktis pada zamannya, termasuk melindungi tubuh dari udara dingin. Dalam perkembangannya, jubah menjadi bagian dari pakaian resmi akademik dan tetap dipertahankan meskipun gaya berpakaian masyarakat berubah.
Penting untuk membedakan toga wisuda modern dari toga Romawi kuno. Keduanya tidak boleh dianggap sebagai pakaian yang sama tanpa penjelasan historis. Jubah akademik modern berkembang melalui tradisi pakaian Eropa abad pertengahan dan mengalami perubahan bentuk selama berabad-abad.
Kini, toga menjadi simbol visual yang mudah dikenali dalam upacara kelulusan. Pakaian tersebut menandai suasana resmi dan menunjukkan bahwa wisudawan sedang mengikuti sebuah tradisi akademik.
3. Mengapa topi wisuda berbentuk persegi?
Topi persegi yang dikenakan wisudawan dikenal dalam bahasa Inggris sebagai mortarboard. Bentuknya yang khas membuatnya menjadi salah satu simbol kelulusan paling mudah dikenali. Mortarboard diperkirakan berkembang dari bentuk penutup kepala yang digunakan oleh kalangan rohaniwan. Topi modern ini terdiri atas bagian penutup kepala dan papan datar berbentuk persegi yang dipasang di bagian atas.
Nama mortarboard berkaitan dengan kemiripan bentuknya dengan papan yang digunakan untuk membawa adukan mortar dalam pekerjaan bangunan. Namun, asal-usul pasti bentuk modern topi tersebut perlu dijelaskan secara hati-hati karena perkembangan pakaian akademik berlangsung melalui berbagai tahap.
Bagaimana dengan tali yang menggantung di atas topi?
Tali itu disebut tassel. Dalam sejumlah tradisi wisuda, pemindahan tassel dari satu sisi ke sisi lain menjadi simbol peralihan status akademik. Namun, aturan tersebut tidak berlaku universal. Posisi tassel dan tata cara penggunaannya dapat berbeda menurut perguruan tinggi.
Jadi, topi persegi bukan sekadar aksesori untuk foto wisuda. Bentuknya merupakan bagian dari tradisi pakaian akademik yang berkembang dan diwariskan oleh berbagai institusi pendidikan tinggi.
4. Mengapa warna dan bentuk pakaian akademik berbeda?
Pernah melihat jubah wisuda dengan warna, kerah, tepian, atau aksesori yang berbeda?
Dalam sejumlah sistem akademik, perbedaan tersebut dapat menunjukkan jenjang gelar, bidang keilmuan, jabatan akademik, atau institusi tempat seseorang memperoleh gelar.
Sebagai contoh, panduan pakaian akademik UCL menjelaskan bahwa warna lapisan sutra pada hood dapat menunjukkan institusi pemberi gelar. Di sejumlah universitas lain, warna juga digunakan untuk membedakan bidang ilmu.
Namun, tidak ada satu sistem warna yang berlaku untuk seluruh universitas di dunia. Makna warna perlu dilihat berdasarkan ketentuan institusi masing-masing.
Karena itu, pakaian akademik dapat berfungsi sebagai penanda identitas dan pencapaian akademik, selain menjadi bagian dari tata upacara.
5. Apa makna prosesi akademik dalam wisuda?
Prosesi akademik adalah bagian dari upacara resmi yang biasanya melibatkan pimpinan perguruan tinggi, anggota senat akademik, dosen, dan wisudawan. Mereka memasuki atau meninggalkan tempat upacara sesuai tata cara yang telah ditetapkan.
Tradisi prosesi menegaskan bahwa wisuda bukan hanya perayaan pribadi. Wisuda juga merupakan kegiatan resmi institusi untuk mengakui pencapaian akademik para lulusan.
Di balik gelar yang diterima, terdapat proses belajar, bimbingan dosen, dukungan keluarga, dan kerja keras yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Itulah sebabnya upacara wisuda umumnya diselenggarakan secara tertib dan khidmat. Susunan acaranya dapat berbeda-beda, karena setiap perguruan tinggi memiliki tradisi dan aturan sendiri.
6. Mengapa lagu Gaudeamus Igitur dikenal dalam tradisi akademik?
Selain toga dan topi persegi, ada satu tradisi musik yang menarik untuk dikenali: Gaudeamus Igitur.
Lagu ini dikenal sebagai lagu mahasiswa berbahasa Latin dan digunakan dalam sejumlah acara akademik. Judulnya sering dipahami sebagai “Marilah kita bergembira,” sedangkan lagu tersebut juga dikenal dengan judul De brevitate vitae, yang berarti “tentang singkatnya kehidupan”.
Baris pembukanya berbunyi:
Gaudeamus igitur, juvenes dum sumus.
Artinya kurang lebih:
“Marilah kita bergembira selagi kita masih muda.”
Sejarah lagu ini tidak dapat ditelusuri kepada satu pencipta yang diketahui secara pasti. Sebagian teks yang berkaitan dengannya tercatat dalam sumber abad ke-13, sedangkan versi teks yang berpengaruh diterbitkan oleh Christian Wilhelm Kindleben pada 1781. Asal-usul pasti melodi dan keseluruhan teksnya tetap tidak diketahui.
Menariknya, Gaudeamus Igitur bukanlah lagu yang sejak awal diciptakan khusus untuk upacara wisuda. Lagu ini merupakan bagian dari tradisi mahasiswa Eropa yang berkaitan dengan masa muda, kehidupan kampus, dan singkatnya kehidupan manusia.
Seiring waktu, lagu tersebut juga digunakan dalam berbagai perayaan akademik. Penggunaannya dalam acara wisuda dapat berbeda-beda menurut tradisi institusi dan negara.
Pesannya pun lebih luas daripada perayaan kelulusan. Lagu ini mengajak pendengarnya menghargai masa muda dan kesempatan hidup, sekaligus mengingatkan bahwa waktu terus berjalan.
7. Mengapa wisuda menjadi momen yang emosional?
Setelah mengenal sejarah toga, topi wisuda, prosesi, dan lagu akademik, kita bisa melihat bahwa wisuda memiliki makna yang lebih luas daripada seremoni pemberian ijazah.
Bagi mahasiswa, wisuda merupakan pengakuan atas proses belajar dan usaha yang telah dilakukan. Bagi keluarga, momen ini menjadi kesempatan untuk merayakan dukungan, pengorbanan, dan harapan yang menyertai perjalanan pendidikan.
Bagi perguruan tinggi, wisuda merupakan kesempatan untuk melepas para lulusan agar membawa pengetahuan dan keterampilan mereka ke masyarakat.
Toga mungkin hanya dikenakan selama beberapa jam. Lagu wisuda mungkin hanya terdengar selama satu rangkaian acara. Namun, makna di baliknya dapat menjadi kenangan yang melekat lama bagi para lulusan.
Wisuda juga mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya tentang memperoleh gelar. Pendidikan adalah proses untuk terus belajar, mengembangkan diri, dan memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitar.
Lebih dari sekadar toga dan seremoni
Toga, topi persegi, prosesi akademik, dan Gaudeamus Igitur merupakan bagian dari tradisi yang berkembang melalui sejarah panjang pendidikan tinggi.
Meskipun bentuk dan tata caranya berbeda-beda, unsur-unsur tersebut membantu menjadikan wisuda sebagai peristiwa yang bermakna.
Ketika mengenakan toga atau mendengar Gaudeamus Igitur, kita tidak hanya menyaksikan sebuah upacara. Kita juga melihat warisan tradisi akademik yang terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi.
Pada akhirnya, wisuda bukanlah garis akhir perjalanan belajar. Wisuda adalah salah satu tonggak yang menandai dimulainya tahap kehidupan berikutnya.
Selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati. Semoga ilmu yang diperoleh menjadi bekal untuk berkarya, terus belajar, dan memberikan manfaat bagi sesama.