05 November 2026
Mahasiswa Baru STBA mengikuti tes ECT/EATSetiap tanggal 31 Oktober, suasana di berbagai belahan dunia berubah menjadi sedikit lebih menyeramkan. Jalanan dihiasi labu berwajah seram, toko-toko menjual kostum unik, dan orang-orang berdandan menjadi penyihir, vampir, hantu, hingga karakter film favorit mereka.
Kita mengenalnya sebagai Halloween. Namun, tahukah kamu bahwa perayaan yang identik dengan kostum dan permen ini ternyata memiliki sejarah panjang yang berakar dari tradisi kuno di Eropa?
Menariknya, Halloween juga tidak dirayakan dengan cara yang sama di setiap negara. Di Amerika Serikat, anak-anak berkeliling meminta permen. Di Inggris, tradisi Halloween berdampingan dengan perayaan api unggun pada awal November. Sementara itu, di Prancis, Halloween hadir berdekatan dengan peringatan keagamaan Toussaint. Di Korea Selatan, perayaan ini berkembang menjadi bagian dari budaya populer anak muda.
Yuk, mengenal sejarah dan tradisi Halloween di empat negara tersebut!
Sejarah Halloween sering dikaitkan dengan festival kuno masyarakat Kelt (Celtic) bernama Samhain (dibaca sow-in). Festival ini telah berlangsung ribuan tahun lalu di wilayah yang kini mencakup Irlandia, Skotlandia, dan sebagian wilayah Britania Raya serta Eropa Barat.
Samhain menandai berakhirnya musim panen dan dimulainya musim dingin. Bagi masyarakat Kelt, pergantian musim tersebut juga memiliki makna spiritual. Mereka percaya bahwa pada malam menjelang tahun baru Kelt, batas antara dunia orang hidup dan dunia roh menjadi lebih tipis. Karena itu, api unggun dinyalakan dan orang-orang mengenakan penyamaran untuk melindungi diri dari roh-roh yang dipercaya berkeliaran.
Ketika agama Kristen berkembang di Eropa, sejumlah tradisi lokal kemudian berinteraksi dengan perayaan keagamaan. Tanggal 1 November diperingati sebagai All Saints' Day atau Hari Raya Semua Orang Kudus. Malam sebelumnya dikenal sebagai All Hallows' Eve, yang kemudian berkembang menjadi kata Halloween.
Dengan demikian, Halloween modern merupakan hasil perkembangan berbagai tradisi budaya dan keagamaan selama berabad-abad. Perayaan ini tidak berasal dari satu peristiwa tunggal, melainkan mengalami perubahan dari generasi ke generasi.
Sebelum melihat perayaan Halloween di berbagai negara, ada baiknya kita mengenal beberapa tradisi yang paling populer.
Trick-or-treat
Tradisi ini biasanya dilakukan oleh anak-anak yang mengenakan kostum dan mengunjungi rumah-rumah tetangga untuk meminta permen atau makanan ringan. Mereka akan mengucapkan, “Trick or treat!”
Ungkapan tersebut secara sederhana dapat dipahami sebagai pilihan antara memberi hadiah (treat) atau menerima keusilan (trick). Tradisi ini memiliki kaitan dengan praktik lama di Eropa, seperti souling di Inggris, ketika orang-orang berkeliling meminta makanan dan sebagai gantinya mendoakan keluarga yang telah meninggal. Di Skotlandia dan Irlandia dikenal pula tradisi guising, yaitu berkunjung dengan mengenakan kostum dan menampilkan lagu, puisi, atau lelucon untuk mendapatkan hadiah.
Jack-o'-lantern
Labu yang diukir menyerupai wajah menyeramkan merupakan salah satu simbol Halloween paling terkenal. Tradisi ini berkaitan dengan cerita rakyat Irlandia tentang sosok bernama Stingy Jack.
Pada awalnya, masyarakat di Irlandia dan wilayah sekitarnya mengukir sayuran seperti lobak (turnip) untuk dijadikan lentera. Ketika para imigran Irlandia datang ke Amerika pada abad ke-19, mereka menemukan bahwa labu lebih mudah diukir dan ukurannya lebih besar. Sejak saat itu, labu menjadi simbol Halloween yang sangat populer.
Costume party
Mengenakan kostum juga memiliki hubungan dengan tradisi penyamaran pada masa lampau. Kini, kostum Halloween tidak selalu menyeramkan. Banyak orang memilih berdandan sebagai tokoh superhero, karakter animasi, selebritas, atau tokoh dalam film dan serial televisi.
<insert image: American children trick-or-treating in Halloween costumes in a suburban neighborhood>
Jika mendengar kata Halloween, Amerika Serikat mungkin menjadi negara pertama yang terlintas dalam pikiran. Di negara ini, Halloween berkembang menjadi perayaan populer yang melibatkan anak-anak, keluarga, sekolah, komunitas, hingga pusat perbelanjaan.
Tradisi Halloween dibawa ke Amerika oleh para imigran Eropa, terutama dari Irlandia dan Skotlandia, pada abad ke-19. Seiring waktu, tradisi tersebut berbaur dengan kebiasaan masyarakat setempat dan berkembang menjadi perayaan yang lebih luas.
Beberapa kegiatan yang umum dilakukan di Amerika Serikat antara lain:
Trick-or-treating: Anak-anak berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan permen.
Pumpkin carving: Keluarga mengukir labu menjadi dekorasi menyeramkan.
Costume parties: Sekolah, kantor, dan komunitas mengadakan pesta kostum.
Haunted houses: Rumah atau wahana yang dihias menyeramkan untuk memberikan pengalaman menegangkan.
Halloween decorations: Rumah, halaman, dan toko dihiasi dengan labu, jaring laba-laba, tengkorak, dan ornamen hantu.
Halloween di Amerika juga berkembang menjadi bagian dari industri hiburan dan budaya populer. Film horor, acara televisi khusus Halloween, hingga dekorasi dan kostum menjadi bagian dari kemeriahan musim gugur.
<insert image: Halloween decorations and children in costumes in an English neighborhood>
Inggris memiliki hubungan historis yang dekat dengan perkembangan Halloween karena wilayah Britania Raya merupakan salah satu tempat berkembangnya masyarakat Kelt dan tradisi yang berkaitan dengan Samhain.
Di Inggris, Halloween dirayakan pada 31 Oktober. Anak-anak dapat mengenakan kostum, mengikuti pesta bertema Halloween, mengukir labu, dan melakukan trick-or-treating di lingkungan tempat tinggal mereka.
Namun, ada satu perayaan lain yang menarik untuk dikenal, yaitu Bonfire Night atau Guy Fawkes Night, yang diperingati setiap 5 November.
Perayaan ini berbeda dari Halloween. Guy Fawkes Night berkaitan dengan peristiwa sejarah Gunpowder Plot tahun 1605, yaitu rencana untuk meledakkan gedung parlemen Inggris. Setiap tahun, masyarakat memperingatinya dengan menyalakan api unggun dan menyaksikan pertunjukan kembang api.
Karena jaraknya hanya beberapa hari dari Halloween, suasana akhir Oktober hingga awal November di Inggris sering dipenuhi berbagai kegiatan dan dekorasi musiman.
<insert image: Halloween pumpkins in a French town with autumn decorations>
Berbeda dengan Amerika Serikat dan Inggris, Halloween bukanlah tradisi budaya utama di Prancis. Meski demikian, perayaan ini semakin dikenal, terutama melalui pengaruh budaya populer, kegiatan sekolah, pusat perbelanjaan, dan acara hiburan.
Anak-anak di beberapa wilayah Prancis dapat mengenakan kostum, mengikuti pesta Halloween, menghias labu, atau melakukan trick-or-treating. Sejumlah toko dan tempat hiburan juga menghadirkan dekorasi bertema Halloween.
Namun, ada perayaan yang jauh lebih lekat dengan kalender budaya dan keagamaan Prancis, yaitu La Toussaint atau All Saints' Day, yang diperingati setiap 1 November.
Pada momen ini, sebagian keluarga mengunjungi makam anggota keluarga yang telah meninggal dan meletakkan bunga sebagai bentuk penghormatan. Bunga krisan (chrysanthèmes) banyak digunakan untuk menghias makam pada periode ini.
Karena Halloween dan La Toussaint berlangsung berdekatan, keduanya sering muncul dalam suasana akhir Oktober dan awal November di Prancis. Meski demikian, maknanya berbeda: Halloween lebih identik dengan kostum dan hiburan, sedangkan La Toussaint merupakan peringatan keagamaan untuk menghormati orang-orang kudus dan, dalam praktik keluarga, mengenang orang yang telah meninggal.
<insert image: Halloween costume event in a Seoul shopping and entertainment district>
Halloween di Korea Selatan memiliki perjalanan yang berbeda dari negara-negara Eropa dan Amerika. Perayaan ini bukan tradisi asli masyarakat Korea, melainkan budaya yang masuk melalui pengaruh Barat, komunitas internasional, pendidikan bahasa Inggris, dan budaya populer.
Seiring waktu, Halloween semakin dikenal oleh masyarakat Korea, khususnya generasi muda. Sekolah bahasa Inggris, pusat perbelanjaan, taman hiburan, kafe, dan tempat hiburan turut memperkenalkan berbagai kegiatan bertema Halloween.
Salah satu kawasan yang pernah sangat identik dengan perayaan Halloween adalah Itaewon, Seoul. Kawasan ini dikenal dengan suasana multikultural, restoran internasional, dan kehidupan malamnya. Menjelang Halloween, banyak anak muda mengenakan kostum unik dan berkumpul untuk merayakan suasana tersebut.
Berbeda dari Amerika Serikat yang identik dengan anak-anak berkeliling meminta permen, perayaan Halloween di Korea Selatan lebih sering diasosiasikan dengan pesta kostum, aktivitas hiburan, dan budaya anak muda.
Namun, kita juga tidak bisa membicarakan Halloween di Korea tanpa mengingat tragedi kerumunan Itaewon pada 29 Oktober 2022. Peristiwa tersebut menewaskan lebih dari 150 orang dan menjadi pengingat penting bahwa keselamatan publik harus menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan acara yang melibatkan banyak orang.
Kini, perayaan Halloween di Korea Selatan juga dapat dijumpai dalam kegiatan sekolah, acara keluarga, dan berbagai aktivitas komersial. Bentuk serta skala perayaannya dapat berbeda dari satu komunitas ke komunitas lainnya.
Dari Amerika Serikat hingga Korea Selatan, Halloween menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat berpindah lintas negara dan mengalami perubahan makna.
Di Amerika, Halloween berkembang menjadi perayaan keluarga dan komunitas yang sangat populer. Di Inggris, perayaan ini memiliki hubungan historis dengan tradisi Eropa dan berlangsung berdekatan dengan Guy Fawkes Night. Di Prancis, Halloween hadir berdampingan dengan La Toussaint. Sementara itu, di Korea Selatan, Halloween berkembang sebagai bagian dari budaya populer dan gaya hidup anak muda.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa budaya tidak selalu bersifat tetap. Ketika suatu tradisi berpindah ke lingkungan masyarakat yang berbeda, masyarakat dapat menerima, menyesuaikan, atau memaknainya kembali sesuai dengan kebiasaan setempat.
Bagi pembelajar bahasa asing, mengenal Halloween juga menjadi kesempatan untuk memahami hubungan antara bahasa dan budaya. Kita tidak hanya mempelajari kosakata seperti pumpkin, costume, ghost, atau trick-or-treat, tetapi juga memahami konteks sosial dan sejarah di balik penggunaannya.
Karena pada akhirnya, belajar bahasa bukan hanya tentang menguasai tata bahasa dan kosakata. Belajar bahasa juga berarti mengenal cara hidup, kebiasaan, dan cara pandang masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut.
Tertarik belajar bahasa sekaligus mengenal budaya dunia? Di STBA LIA Yogyakarta, kamu bisa mengembangkan kemampuan bahasa Inggris sekaligus mengenal bahasa dan budaya lainnya. Karena belajar bahasa membuka pintu untuk memahami dunia yang lebih luas!