01 May 2026
Webinar Public Speaking "Unlock Your Voice"28 April 2026
Fiksasi Kerja Sama Sleman PintarBahasa Inggris, MEA, dan Daya Saing Bangsa
Kemampuan bahasa Inggris yang baik (dan baikpun sebetulnya belum cukup) sangat diperlukan ketika dunia ini semakin tidak bersekat. Era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) merupakan bukti semakin borderless-nya setiap negara, khususnya negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Dengan semakin tingginya mobilitas informasi dan tenaga kerja maka tidak ada yang dapat menyangkal bahwa ahli bahasa Inggris atau kemampuan bahasa Inggris semakin diperlukan di era tersebut.
Sebuah laporan penelitian yang dilakukan oleh EF EPI dan PBB (United Nations) secara jelas menggambarkan tentang adanya korelasi antara dtingkat proficiency/kemampuan bahasa Inggris dengan tingkat pendapatan dalam satu Negara. Hal itu tergambar dari grafik sebaran GDP dan kemampuan berbahasa Inggris di berbagai Negara berikut ini.
Grafik ini mencoba menerangkan bahwa semakin baik kemampuan bahasa Inggris masyarakat suatu Negara maka akan semakin tinggi penghasilan perkapita pertahun masyarakat suatu Negara.
Lalu, dimanakah letak kemampuan masyarakat Indonesia dalam berbahasa Inggris? Sebuah penelitian oleh EF EPI juga telah berhasil merumuskan ranking (tingkat) kemampuan bahasa Inggris masyarakat dalam satu Negara. Penelitian ini menggolongkan kemampuan berbahasa Inggris rakyat dalam berbagai Negara kedalam kelompok sangat baik (very high proficiency), kemampuan tinggi (high proficiency), kemampuan moderat (moderate proficiency), kemampuan rendah (low proficiency), dan kemampuan sangat rendah (very low proficiency).
Dari penelitian ini disebutkan bahwa kemampuan berbahasa Inggris (secara umum) masyarakat Indonesia berada pada tingkat moderate. Di Asia, termasuk dalam kelompok ini adalah Negara Jepang, Honkong, dan Taiwan.
Selanjutnya, dua Negara ASEAN Singapore dan Malaysia termasuk ke dalam Negara dengan kemapuan berbahasa Inggris yang high proficiency; Vietnam masuk kedalam kriteria low proficiency; dan Thailand serta Kamboja masuk ke dalam kelompok very low proficiency. Masuknya Negara-negara ASEAN ke dalam kelompok/ranking yang berbeda tentu menimbulkan daya saing yang mungkin berbeda pula.
Data penelitian yang lain menunjukkan bahwa daya saing Indonesia di kawasan ASEAN belum cukup menggembirakan. Perlu dicatat bahwa menurut Forum Ekonomi Dunia (the World Economic Forum) ranking persaingan negara-negara pada tahun 2015-2016, walaupun sifatnya arbitrary (berubah-ubah), Indonesia menempati tingkat competitiveness pada urutan 37 (urutan ke 34 pada tahun 2014-2015) berada jauh di bawah Singapura yaitu pada urutan ke 2, Malaysia pada urutan ke 18, dan Thailand pada urutan ke 32. Indonesia tentu wajib meningkatkan level of competitiveness (daya saing) pada ketujuh indikator penentu yang dipakai the World Economic Forum menilai seperti faktor institusi, infrastruktur, makroekonomi, efisiensi pasar, efisiensi tenaga kerja, serta mutu training dan pendidikan khusunya pendidikan tinggi, dan lebih khusus lagi kemampuan berbahasa Inggris masyarakatnya agar dapat berkompetisi secara baik dengan negara-negara ASEAN yang lain.
Jika premis “Semakin baik bahasa Inggris satu masyarakat dalam satu negara (jika dibanding dengan negara pesaing), maka semakin tinggi daya saing dan semakin tinggi pula penghasilan masyarakat tersebut”, maka tiada kata lain bahwa pelatihan/pendidikan/pengajaran bahasa Inggris yang lebih baik merupakan keniscayaan peningkatan daya saing tenaga kerja Indonesia. Missal, kedepan, ASEAN tidak hanya akan membutuhkan tenaga kesehatan, namun tenaga kesehatan yang mahir berbahasa Inggris, insinyur yang lancar berkomunikasi dalam bahasa Inggris, dst.
AD/16/10/15