14 April 2026
Launching Program Cultural Exchange oleh YAIJBerlatih bahasa Inggris dengan Membaca Keras-keras (reading out loud)
Ketika kita belajar membaca di TK atau di sekolah persiapan yang lain, salah satu kegiatan kelas yang guru sering minta untuk dilakukan adalah menyebut (membaca) angka dan atau kata-kata secara keras-keras. Kegiatan ini nampak sangat sederhana walaupun sebenarnya memiliki peran besar dalam proses belajar para peserta didik.
Aktifitas read aloud memancing otak untuk mengakuisisi berbagai aspek dari kata-kata yang diucapkan oleh anak-anak murid tersebut. Anak-anak akan merekam beberapa aspek dari kata yang diucapkan, seperti aspek phonologis (bunyi), aspek semantik (makna), aspek grafik (spelling), dan beberapa aspek yang lain. Kegiatan ini juga mampu menurunkan filter afektif dari para anak karena kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama dalam satu kelas (in unison), dibanding jika mereka harus mengerjakan sesuatu secara individual. Setelah mendengar kata-kata secara keras (tidak dalam hati), memori anak akan bekerja untuk merekam dan tidak akan pernah lupa tentang aspek-aspek tersebut; tentu secara dibawah sadar (subconsciously).
Sebagai anak-anak, kita diajarkan untuk mulai membaca keras-keras di kelas, awalnya akan mulai dengan huruf atau angka yang perlahan-lahan menjadi lebih rumit (lebih panjang) atau konsep baru), seperti tanggal, bulan,tahun,warna dan sebagainya. Kegiatan ini banyak dilakukan pada pebelajar usia dini.
Namun, pada tahun-tahun pembelajaran berikutnya, guru khususnya guru bahasa akan mulai bersikeras bahwa kita harus membaca buku-buku secara diam-diam (dalam hati). Namun, beberapa dari kita akan tetap berusaha membaca “keras” dengan cara berbisik kepada diri mereka sendiri (mumbling). Hal ini mudah dipahami karena mereka merasa membaca diam-diam (dalam hati/silent) kurang membantu pembelajaran mereka. Mereka merasa sulit untuk memahami teks tanpa membaca dengan bersuara (untuk tidak mengatakan membaca keras-keras). Namun secara perlahan dari proses membaca keras kemudian membaca dengan cara berbisik mereka akan mengalami masa dimana mereka secara gradual mampu secara penuh melakukan aktifitas membaca dalam hati.
Pertanyaannya, jika anak-anak banyak belajar melalui proses membaca keras-keras (membaca secara berbisisk) adakah peran read aloud pada pembelajaran bahasa Inggris untuk kalangan siswa sekolah menengah dan mahasiswa perguruan tinggi; English for adult learners? Tentu!
Pertama, menurut beberapa sumber, seperti yang ditulis oleh O’Malley & Chamot, self talk memiliki peran untuk mereduksi anxiety dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran bahasa Inggris (p.46).
Kedua, reading aloud juga membantu pebelajar untuk memperbaiki kemampuan pelafalan. Dengan membaca keras maka yang bersangkutan dapat mengenali kata-kata yang belum dikuasai cara melafalkannya. Biasanya, pebelajar akan segera mencari sumber untuk mengetahui cara pelafalan yang benar untuk suatu kata yang ditemuinya dalam proses membaca keras tersebut.
Ketiga, reading aloud juga membantu pebelajar untuk secara gradual mengenali chunking dalam satu kalimat panjang. Dengan demikian, pebelajar secara subconscious (tidak sadar) akan mengenali konstruksi kalimat yang dibacanya sepanjang apapun kalimat itu. Dengan kata lain, ketrampilan sintaktisnya akan semakin terasah dan berkembang.
Keempat, reading aloud akan membantu membangun kepercayaan diri dalam memproduksi kalimat-kalimat terucap. Berbeda dengan pebelajar bahasa Inggris pada setting ESL (English as A Second Language), sejujurnya, sebagian besar pebelajar bahasa Inggris pada EFL (English as A Foreign Language) setting tidak secara ekstensif mempraktekkan kemampuan bicara mereka. Pada ESL setting, pebelajar “dipaksa” untuk survive ketika mereka berada di luar kelas. Sementara, untuk mereka yang berada pada EFL setting, sangat mungkin bahwa satu-satunya medium mereka untuk berbahasa Inggris hanya ada pada saat mereka belajar di kelas. Di luar kelas, mereka “dipaksa” untuk tidak menggunakan bahasa Inggris karena bahasa Inggris sesungguhnya tidak digunakan untuk berkomunikasi secara riil di masyarakat. Bahasa Inggris hanya merupak obyek pembelajaran semata. Oleh karenanya, reading aloud dapat menjadi solusi untuk meningkatkan frekuensi “berbicara” bahasa Inggris bagi mereka yang berada pada EFL setting. Lagipula, berbeda dengan situasi pada ESL setting, di EFL setting mencari teman bicara (speaking partners) tentu tidak mudah.
Reading aloud juga mampu memupuk kepercayaan diri pebelajar. Dengan membaca sera keras atau bergumam yang bersangkutan akan merasa terbiasa dengan pengucapan (berbicara) bahasa Inggris. Dengan merasa terbiasa maka yang bersangkutan akan memiliki kepercayaan diri bahwa dia mampu berbahasa Inggris. Hal ini tentu sangat berbeda dengan mereka yang sangat jarang menggunakan speech organs-nya untuk memproduksi bahasa yang dipelajarinya, terasa kaku (stiff) dan aneh.
Paparan singkat ini cukup menggambarkan pentingnya reading aloud dalam pembelajaran bahasa baru khususnya bahasa Inggris. Silakan mencoba! Tidak perlu berlama-lama,cukup 30 menit per hari. Anda akan merasakan manfaatnya.
Tip terakhir, akan lebih baik jika reading aloud Anda direkam dan disimpan dalam bentuk MP3 atau sejenisnya. Setelah itu, silakan bandingkan rekaman pertama anda dengan rekaman yang ke 30 Anda (setelah satu bulan praktek). Anda akan merasakan bedanya. Trust me. It works!AD515