"All out" vs. "Walk out"

Akhir-akhir ini ramai menjadi perbincangan, perdebatan, bantahan-bantahan menyangkut penetapan RUU Pilkada menjadi UU Pilkada oleh DPR RI. Koran, tabloid, majalah, radio, televisi dan berbagai-bagai media on-line (dan media sosial) menjadikan topik ini sebagai trend bahasan.  Drama panjang sampai dini hari.

Yang menjadikan hal ini semakin riuh bukan hanya substansi UU-nya namun juga proses penetapannya. Sebelum voting dan palu ketua DPR diketukkan nampaknya terjadi kebingungan pada salah satu fraksi di DPR apakah akan terus mengikuti seluruh proses dengan tetap berada di ruang sidang atau keluar ruangan sidang.

Lebih menghebohkan lagi adalah adanya “kenyataan” bahwa terjadi disparitas tajam antara perjuangan ketua partai dan anggota partai yang ada di DPR. Seluruh sumber informasi sebenarnya mengkonfirmasi bahwa kedua pihak (dalam satu kepartaian tersebut) setuju dengan upaya ke arah Pilkada langsung; pilkada langsung dengan syarat tertentu. Namun hasil menunjukkan hal yang berbeda.

Dengan apa yang sering orang sebut sebagai “walk out” akhirnya pilkada tidak langsung atau pilkada melalui DPRD  mendapatkan dukungan yang lebih besar. Tentu pihak “walk out” telah melakukan hitung-hitungan jika “walk out” terjadi  – khan hanya matematika sederhana saja.  

Kehebohan berikutnya terjadi karena ada kebingungan apakah “walk out” sebenar-benarnya adalah merupakan perintah dari atasan mereka. Mereka bertanya-tanya apakah Ketua benar-benar telah perintahkan kepada ketua fraksi untuk “walk out”.  Jangan-jangan bukan “walk out” yang diminta tapi “all out”. Melalui pernyataan beberapa elite partai di media sepertinya perintah itu menjadi tidak jelas apakah “walk out” atau “all out” atau bahkan tidak ada komando sama sekali; ada yang menyataan perintah diterima lelalui sms (texting) dan ada yang mengemukakan bahwa perintah itu dikomunikasikan langsung melalui  percakapan telpon. Jika melalui sms, mungkinkah telah terjadi “salah baca” antara “walk out” vs. “all out”? Atau, jika komunikasi telah terjadi melalui telpon telah terjadi gagal faham dalam membedakan pelafalan kata “walk out” dan “all out” – maklum kedua frase memiliki akhiran out.



Kemungkinan salah baca teks

Sebenarnya, frasa “walk out” dan “all out” tidak memiliki jumlah huruf yang sama. “walk out” terdiri dari 7 huruf sedangkan “all out” terdiri dari 6 huruf; namun tentu keduanya hanya terpaut 1 huruf saja. Seorang pembaca yang sudah fasih (avid readers) biasanya tidak hanya bergantung pada konsituen (huruf-huruf penyusun) setiap kata dalam proses membaca atau mengenali sebuah kata dalam satu konteks tulisan. Seorang avid readers banyak mengandalkan pola grafik dan volume pada kata-kata dalam membantu kecepatan membaca mereka. Kata “beautiful” disamping volume (panjangnya) memiliki kontur grafis yang unik. Seorang avid reader tidak perlu membaca setiap huruf pada kata tersebut untuk sampai pada taraf pemahaman arti kata. Contoh lain,  frasa “walk out” tentu sangat jauh berbeda dengan “fishing out” dari segi pola grafis dan volumenya. Pola grafis pada frasa “walk out” mulai dengan huruf “w” yang tidak lebih tinggi dibanding huruf “f”pada “fishing out”; pola naik turunnya berbeda. Dari segi volume, frasa “walk out”  juga lebih kecil dibanding volume frasa “fishing out”. Untuk kedua frasa ini hampir tidak mungkin tertukar interpretasinya; “walk out” akan dibaca “walk out”, “fishing out” juga akan dimengerti sebagai “fishing out” tidak akan tertukar atau keliru. Lalu, bagaimana dengan grafik frasa “walk out” dibanding “all out”? Dari segi kontur, kedua frasa sama yaitu berawal dari titik bawah menuju ke atas dan sama-sama memiliki dua kata dalam setiap frasa dengan ending yang sama yaitu “out” yang tentunya memiliki kontur yang persis sama. Dari segi volume kedua frasa ini tentu tidak sama persis; “walk out” bervolume sedikit lebih besar daripada “all out”. Contoh, bandingkan huruf “w-a-l-k” pada “walk out” dengan  “a-l-l”. Mungkinkah si pembaca sms dari sang Ketua tidak secara persis membaca huruf-huruf konstituen  dari setiap kata pada frasa “walk out” dan “all out”- hanya sekilas saja baca sehingga secara grafis keduanya nampak identik? Tidak jelas!



Percakapan per telpon: segi fonologis

Ada pejabat yang senang menggunakan bahasa Inggris pada paparan berbahasa Indonesianya atau sering disebut code-switching atau code-mixing. Boleh jadi salah satu dari kata “walk out” atau “all out” dipergunakan dalam komunikasi dengan bawahannya. Secara fonologis, kata pertama dalam kedua frasa ini sama-sama memiliki hanya satu suku kata saja. Kedua kata juga memiliki nucleus (vowel) yang sama yaitu /o/ (seperti ada pada kata odol). Apalagi, walaupun pada “walk” /l/ itu silent,  jika ditinjau secara ortografis kedua kata ini sama sama memiliki /l/. Mungkinkan kemiripan fonologis ini menjadikan “all out” terdengar seperti “walk out”? Tidak jelas pula!

Atau…karena sudah lelah (dini hari!) dan priming (terngiang-ngiang) yang ada di kepala adalah  “walk out” maka ketika yang ditulis atau diucapkan oleh sang ketua adalah “all out” maka oleh otak input tersebut tetap di-coding sebagai “walk out”?  Wallahu a’lam.

 

 (AD)