Jamak, jika akhir-akhir ini hampir seluruh pekejaan baik akademik maupun non-akademik mensyaratkan kompetensi tinggi dalam berbahasa Inggris. Sangat berbeda dengan era 80-90-an dimana seseorang dengan kemampuan berbahasa Inggris masih dianggap sesuatu yang "langka". Banyak pihak masih "terkagung-kagum" jika mendengar seseorang berkemampuan aktif bahasa Inggris. hal ini berbeda dengan apa yang terjadi di beberapa tahun terakhir ini.

Saat ini kemampuan berbahasa Inggris bukan lagi sesuatu yang  "asing". Bahkan, di era global sekarang ini ada nosi baru tetang bahasa Inggris yang tidak disebut lagi sebagai bahasa asing (foreign language) dan diberi label baru sebagai bahasa-bahasa Inggris dunia (world Englishes). Lebih ekstrim lagi, dewasa ini telah berkembang satu pendekatan dalam memahami konstruksi dan fungsi bahasa Inggris dimana dikatakan bahwa bahasa Inggris dibagi kedalam tiga lingkaran yang berbeda (Kachru), Inner circle, outer circle dan expanding circle seperti tergambar pada gambar di bawah ini. Ketiga lingkaran tersebut menggambarkan bahawa bahasa Inggris bukan lagi menjadi dominasi negara-negara dalam inner circle namun telah menjadi bagian dari lingua franca dalam dua lingkaran lainnya.  Makna besarnya adalah bahwa konstruksi bahasa Inggris inner circle sudah tidak lagi harus diterima oleh pengguna bahasa tersebut di dua lingkaran lainnya. Ciri khusus dalam konstruksi bahasa Inggris dalam outer dan expanding circle harus diterima sebagai fakta konstruksi bahasa Inggris meskipun mungkin berbeda dengan norma-norma bahasa Inggris yang ada dalam negara-negara yang mendiami inner circle seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.

Indoneisa tentu berada pada lingkaran expanding circle dimana bahasa Inggris defacto memang belum secara luas digunakan sebagai linngua-franca atau belum  digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari. Namun fakta yang lain juga menggambarkan bahwa hampir seluruh pekerjaan mensyaratkan kompetensi berbahasa Inggris. 

Secara umum, kompetensi berbahasa Inggris diukur dari mahirnya seseorang berbicara dalam bahasa Inggris serta tingginya skor/nilai tes profisiensi bahasa Inggris yang umumnya dimaknai sebagai kemampuan dalam tes TOEFL. Hal ini dapat dimengerti, pertama, karena kedua kemampuan tersebut dapat dilihat, diukur, didengar dan diverifikasi secara nyata. Berbeda dengan kemampuan menyimak, menulis, membaca yang tidak segera dapat dirasakan dampak kemampuannya. Kedua, Kemampuan dalam hal berbicara dan TOEFL memang telah menjadi bagian persyaratan segala profesi baik profesi akademik maupun non-akademik sehingga kedua kemampuan ini lebih umum atau lebih sering didengar oleh masyarakat luas.

Maka, wajar kiranya jika berbicara tentang kemampuan bahasa Inggris seseorang yang akan mencuat pertama kali adalah kemampuan/skor TOEFL-nya (catatan: banyak macam tes kemampuan Bahasa Inggris yang lain). Kita sering mendengar, "TOEFL-mu/nya berapa?" atau,"Dia lancar gak ngomong Inggris?". Jarang kita mendengar orang bertanya, "Dia pinter baca teks Bahasa Inggris gak?" atau, "Listeningnya bagus gak?.

Rasionnel tersebut mendasari desain DIKLAT (2 semester) Conversation & TOEFL di STBA LIA Yogyakarta. Dengan capain pembelajaran (learning objectives) yang diarahkan kepada penggodokan kedua kemampuan tersebut diharapkan profil unggul bahasa Inggris para peserta DIKLAT akan segera dapat dirasakan baik oleh perserta sendiri dan juga oleh para pemberi kerja pada umumnya. (AD/13/08/14)