Supporting Units



Statistic


Ungkapan satire di atas telah sering kita dengar. Satire itu ada lanjutannya, “Jika prosesnya bisa diperpanjang, kenapa harus dibuat singkat? Yang lebih parah lagi, “Kalau bisa lebih lama dan bayar, kenapa harus cepat dan gratis?” Ironi!

Lama dan cepat tentu “hanya” masalah waktu. Hal yang sering dinomorsekiankan dalam interakasi berkehidupan banyak orang, tidak terkecuali oleh para pebelajar (dan mungkin juga oleh para pembelajar). Bidang pendidikan yang semestinya menjadi epicentrum perubahan perilaku. Kita paham terhadap berbagai istilah tentang kurangnya penghargaan atas waktu semacam sistem kebut semalam (sks), jam karet, leha-leha, kongkow-kongkow, ngrumpi, dll. Mungkin itulah sebabnya warung kopi selalu lebih rame dibanding perpustakaan. Hal yang sulit ditemukan di Amerika, misalnya. Sejauh pengamatan saya, perpustakaan di sana bahkan perpustakaan umum (public library) selalu dipenuhi pembaca dari segala umur, dari balita sampai para penghuni panti jompo. Selain di musim panas (Summer) yang biasanya buka setelah jam 9.00 pagi, seluruh perpustakaan hampir dipastikan selalu penuh dengan pengunjung semenjak pagi hari.

Penghargaan terhadap waktu adalah perwujudan budaya yang proses sitensisnya tentu sangat panjang sepanjang peradaban bangsa itu sendiri. Contoh mudahnya, bangsa yang hidup diempat musim jika ingin bercocok tanam harus merencanakan dengan matang khusunya KAPAN mereka harus mulai menyemai bibit. Terlalu awal, bibit akan mati karena frost (es) atau wind chills (angin dingin); jika molor, hasil tidak dapat dipanen karena wind chill, frost  dan salju. Hal ini tentu berbeda dengan kondisi alam di Indonesia yang adalah surga atau paling tidak zamrud katulistiwa dimana hampir kapanpun kita bisa mulai bercocok tanam. Jika hari ini agak malas untuk mulai tanam, ya minggu depan masih bisa; jika minggu depan ada halangan ya masih mungkin dilakukan bulan depan dan seterusnya.

Mungkin itulah sebabnya bangsa lain memiliki lebih banyak ungkapan mengenai penghargaan atas waktu daripada bangsa kita, Indonesia. Berikut beberapa kutipannya selain “Time is money” yang sudah akrab di telinga kita.

  • Take care of the minutes, for the hours will take care of themselves.
  • Procrastination is the thief of time.
  • Our costliest expenditure is time.
  • Those that make the best use of their time have none to spare.
  • The shortest way to do many things is to do only one thing at a time.
  • Never think of the future - it comes soon enough.
  • Men count up the faults of those who keep them waiting.
  • Timeliness is best in all matters.
  • Better three hours too soon than a minute too late.
  • Much speech is one thing, well-timed speech is another.
  • Prepare your silken coat before it rains, and don't wait until you are thirsty to dig a well.
  • When a horse comes to the edge of the cliff, it is too late to draw rein; when a boat reaches midstream, it is too late to stop the leaks

 Kita sendiri akan sedikit merasa aneh dengan makna kuotasi di atas, misal,

  1. Waktu adalah uang.
  2. Penundaan adalah pencuri waktu.
  3. Ketepatan waktu adalah segalanya.
  4. Lebih baik 3 jam lebih awal daripada terlambat 3 menit.

Silakan rasakan dan resapi maknanya dengan menggunakan perspektif berkehidupan masyarakat kita. Contoh, penundaan sudah akrab di jadwal keberangkatan moda angkutan, khususnya pesawat. Terlambat 3 menit? Ah…tentu sudah lebih dari jamak!

Konon, di awal abad 19 di Amerika perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh Kelurga Henry Ford menghadapi masalah dengan para pekerja imigranya, yang salah satunya juga mengenai penghargaan atas waktu (timeliness). Ketika bermigrasi ke Amerika, para pekerja ini membawa berbagai-bagai tata nilai (values) dari negara asal masing-masing yang mungkin berbeda dengan tata nilai yang hidup di Amerika di masa itu (dan masa sekarang tentunya). Dalam perjalanannya banyak dari mereka yang mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan values yang dimiliki dalam komunitas orang Amerika. 

Sebagai usaha untuk mengatasi masalah tersebut maka pada tahun 1914 The Ford English School didirikan dengan tujuan untuk mendidik para pekerja imigran di perusahaan-perusahaan tersebut bukan hanya dalam memperbaiki kemampuan mereka berkomunikasi dalam Bahasa Inggris namun juga untuk mengenalkan tata nilai yang baru yang mereka harus ikuti ketika mereka berada dan bekerja di Amerika. Selain memperbaiki bahasa Inggris para pekerja tersebut, The Ford English School juga mengajarkan hal-hal lain seperti sejarah  serta budaya Amerika. Mereka juga dididik bagaimana pentingnya nilai-nilai (virtues) Amerika untuk survive yaitu seperti hal-hal yang menyangkut tata kelola keuangan yang baik, kebersihan, penghargaan terhadap orang lain, dan yang tak kalah pentingnya yaitu mengenai ketepatan waktu (timeliness) atau penghargaan atas waktu.

Nah…, di sekeliling kita telah sering kita dengar ungkapan pola fikir stereotip kontra budaya asing (Barat) yang melabelnya dengan individualistis (dengan konotasi negatif), black metal, punk, destruktif, dll. Ungkapan yang bersifat sterotipikal negatif tentang budaya barat seperti ini sangat mudah kita temukan. Sebaliknya, tidak cukup banyak sumber yang mengungkap bahwa tak terhitung juga tata nilai “Barat” yang sebenarnya lebih dari pantas untuk kita pelajari terutama pada saat kita mempelajari bahasa mereka, bahasa Inggris.

Hubungannya dengan bahasa (Inggris)? Bahasa Inggris sebagaimana bahasa-bahasa lain di dunia  adalah cermin nilai yang berkembang dalam suatu bangsa dimana bahasa tersebut digunakan sebagai bahasa ibu. Bahasa merupakan produk sekaligus medium budaya yang termaktub didalamnya unsur tata nilai. Tentunya, dalam hal bahasa Inggris, salah satu “good virtues” dari bahasa ini  sekurang-kurangnya adalah penghargaan terhadap waktu atau disiplin waktu. Jika merunut proses pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia, setiap (maha)siswa sekurang-kurangnya telah mempelajari bahasa ini semenjak mereka di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama) atau sekurang-kurangnya 6 tahun. Nilai timeliness yang semestinya telah diadopsi dan diterapkan  dengan baik oleh para pebelajar bahasa Inggris tersebut.

Pengadopsian ini tentunya (seharusnya) sudah berjalan dengan sendirinya seiring dengan proses pembelajaran bahasa Inggris baik melalui pendidikan formal maupun non-formal. Melalui pendidikan formal, setiap siswa/murid telah berkenalan dengan bahasa Ingris sekurang-kurangnya semenjak mereka duduk di  bangku SMP. Kursus-kursus bahasa Inggris  sebagai jalur pendidikan non-fomal tersebar dari pelosok sampai ke kota-kota besar di seluruh Indonesia. Banyak anak-anak Taman Kanak-kanak bahkan play-group telah dikenalkan dengan bahasa Inggris. Namun, nampaknya desain isi beserta metoda pengarahannya masih belum beranjak dari tataran mengajarkan cara berkomunikasi; jadi lebih pada pola label changes atau sekedar mengubah label-label bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Jika kita runut lebih jauh, berbagai sumber belajar atau materi pembelajaran bahasa Inggris yang ada belum menginkorporasi nilai-nilai sosial timeliness karena masih sangat sangat sulit ditemukan. Sangat sulit menemukan teks yang mendiskusikan tentang kedisiplinan/penghargaan terhadap waktu, bahkan dalam buku-buku yang berpendekatan fungsional ataupun nosional yaitu ketika konteks bahasa adalah fungsi-fungsi bahasa yang menyangkut pembuatan janji, undangan kepada seseorang, atau dalam diskusi mengenai waktu/jam dalam bahasa Inggris.

 

Pekerjaan rumah (PR) untuk pendidik seperti kita.

 

Salam timeliness!

Kampus STBA LIA Yogyakarta 2013