Supporting Units



Statistic


“Aku dah belajar bahasa Inggris dari SMP sampai bangku kuliah tetep aja gak bisa komunikasi!” Keluhan semacam ini sering kita dengar baik. Bahkan cukup banyak (maha)siswa dengan nilai bahasa Inggris sangat baik tapi tetap saja tidak mampu menggunakannya untuk berkomunikasi. Orang sering menyebutnya sebagai kemampuan pasif mereka yang jauh lebih baik daripada kemampuan aktifnya.

 Kita juga sering melihat atau mendengar berbagai iklan tentang program kursus bahasa asing khususnya Bahasa Inggris seperti program ekspres/kilat penguasaan bahasa asing. Sering kita dengar jargon-jargon kursus kilat seperti, English in 30 Hours, Program Cepat TOEFL 500, Mahir Berbahasa Inggris dalam 30 Jam dan lain sebagainya.

Iklan-iklan tersebut tentu menarik untuk dicermati. Karena penasaran, sekali waktu saya melakukan melakukan observasi langsung ke salah satu penyelenggara program di atas di salah satu lembaga kursus di Jakarta.  Program yang dikemas dalam 15 pertemuan kali 100 menit tersebut menjanjikan kemahiran berbicara bahasa Inggris sebagai tujuan finalnya. Pada intinya desain program mengandalkan drilling, satu metode pengajaran yang diadopsi dari teori behaviorism. Teori ini percaya bahwa pembelajaran khususnya pembelajaran bahasa dapat diakselerasi dengan ditanamkannya kebiasaan baik (good habit formation) dan menekan atau bahkan menghilangkan praktek kebiasaan buruk (bad habit/bad practices). Instalasi kebiasaan baik yang dilaukan secara berulang-ulang dan konsisten dipercaya akan mendukung tingkat kesuksesan pebelajar.

Para penggagas program kursus  yang saya observasi sadar atau tidak nampaknya dipengaruhi pemikiran di atas.  Dalam hal ini, penyelenggara program percaya bahwa dengan memberikan intensive drills (production practice) pada kemampuan (skills) berbicara khususnya kemampuan  bertanya dan menjawab pertanyaan yang diikuti dengan praktek bertanya dan menjawab pertanyaan secara terus menerus dapat segera menolong para pebelajar untuk berkemampuan berdialog (converse) dalam bahasa Inggris. Argumennya adalah bahwa inti dari komunikasi adalah bertanya dan menjawab. Tidak sepenuhnya salah! Pada seluruh sesi program setiap siswa di-drill secara massive tentang bagaimana cara membuat pertanyaan dan menjawab pertanyaan itu sendiri. Praktek bertanya dan menjawab mengambil hampir setiap menit proses belajar. Pertanyaan berkembang dari konstruksi sederhana seperti, “What is your name?” sampai pada yang lebih komplikatif seperti “How long have you been staying here?

Kelas berjalan ramai dan menarik. Seluruh pebelajar tanpa canggung berpartisipasi dalam setiap kegiatan kelas. Mereka sangat antusias. Kelas ditutup dengan praktek bertanya-menjawab secara berpasang-pasangan. Kegiatan penyimpul kelas dilakukan oleh mentor dengan memastikan kembali setiap siswa memahami dan mampu menyusun kalimat tanya sekaligus memberikan jawaban dengan benar. Nampaknya pebelajar mampu menyusun pertanyaan dan jawaban dalam bahasa Inggris seperti yang ditargetkan. Kegiatan kelas disambung ke pertemuan berikutnya. Hal yang sama terjadi, drilling sampai akhir program. Harapannya, setiap peserta akan langsung mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan baik dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, kurang lebih 30 jam.

Poin utama dari contoh di atas adalah bahwa pengelola program percaya penguasaan bahasa asing dapat dilaksanakan dalam waktu singkat, atau instan. Teaching beliefs yang semacam ini sebenarnya bukan hanya bertentangan dengan teori pembelajaran bahasa asing namun juga bertentangan dengan nature dari bahasa itu sendiri. Nature akuisisi bahasa baru memerlukan waktu, mirip dengan bagaimana seorang anak mengakuisisi bahasa ibu-nya.

Secara teori, kesuksesan belajar bahasa asing tidak ditentukan oleh faktor tunggal. Kumara Vadivelue, misalnya, percaya bahwa bahwa kesuksesan mengakuisisi bahasa baru selain ditentukan oleh macam dan kualitas input juga didorong oleh faktor lain seperti kemampuan bawaan individu (aptitude); faktor taktik/teknik pembelajaran; faktor negosiasi makna sebagai ciri utama komunikasi; faktor motivasi belajar (attitude); faktor pengetahuan awal mengenai bahasa yang akan diakuisisi; dan faktor lingkungan dimana bahasa baru itu dipelajari (environment) – orang yang belajar bahasa Inggris di Inggris tentu berbeda hasilnya dari orang yang belajar bahasa Inggris di Vietnam ataupun di Indonesia. Pada intinya keberhasilan seseorang dalam mengakuisisi bahasa baru tergantung pada bobot investasinya. Semakin sarat alokasi investasi utamanya investasi waktu yang diberikan akan semakin baik hasilnya. Semakin frekuentif dan semakin lama seseorang terpapar dengan bahasa baru tersebut maka hasilnya akan semakin baik. Jelas, prosesnya memerlukan waktu agar ilmu yang tadinya bersifat deklaratif menjadi ilmu yang berfungsi procedural dengan proses otomatisasi.

Untuk itu pebelajar bahasa baru juga wajib berinvestasi yaitu dengan lebih sering menggunakan apa yang telah diperoleh dari proses belajar yang telah dilakoninya. Menurut banyak ahli, misalnya Jack C. Richards, jika seseorang “memaksakan diri” untuk menggunakan bahasa barunya maka apa yang disebut sebagai forced output baik dalam bentuk lisan maupun tulisan akan memperkuat beberapa hal seperti rasa keberhasilan (feeling of success), kepercayaan diri, memancing umpan balik demi perbaikan, dan yang tidak kalah pentingnya memperkuat ingatan terhadap apa yang telah dipelajari dan mencegah proses lupa (attrition).  Semakin banyak dipakai (investasi tinggi) maka bahasa baru si pebelajar akan semakin rapih, semakin halus, semakin kuat, dan tentu semakin baik. Tidak ada yang instan; tidak ada sistem kebut seminggu. Keberhasilan perlu investasi yang panjang.

Untuk penguasaan bahasa Inggris komunikatif maka ada dua hukum disini. Hukum pertama, jika ingin berhasil maka praktekkanlah ilmu yang didapat seintensif mungkin. Kemudian hukum kedua, jika hasilnya kurang bagus maka kembalilah ke hukum pertama. Kenapa demikian? Seperti selembar ikat kepala (Jawa: wastro), semakin lama berada di jemuran (Jawa: sampiran) semakin kusutlah (Jawa: lungsret) dia --  Watro lungsret ing sampiran atau jika ingin dipadankan dengan ungkapan bahasa Inggris maka bunyinya kira-kira   Practicemakesperfect!  Lho?