Akhir-akhir ini marak berita tentang tindak bullying di salah satu perguruan tinggi swasta di  wilayah Depok, Jawa Barat. Menilik video  yang telah viral, juga mencermati berbagai berita yang ada, maka ternyata pelaku dari apa yang disebut bullying lebih dari satu orang.  Jika praktek tercela tersebut dilakukan oleh satu orang maka, by definition, istilah bullying dapat disematkan. Namun, jika bullying atau “perundungan” tersebut dilakukan oleh banyak orang tentu itu lebih serius daripada bullying itu sendiri -itu mobbing.

Bullying merupakan aktifitas seseorang yang menggunkan kekerasan, ancaman, atau pemaksaan untuk menyalahgunakan, mengintimidasi, atau secara agresif mendominasi orang lain. Perilaku bullying terjadi berulang-ulang dan bahkan dapat menjadi praktek hari ke hari. Bullying terjadi karena adanya satu persepsi oleh yang merasa “kuat” terhadap yang diangap “lemah”.  Jadi, terdapat ketidakseimbangan kekuatan sosial atau  kekuatan fisik sebagai salah satu syarat praktek perundungan ini. Ketidak seimbangan ini membedakan praktek bullying dengan tindak pertengkaran, percekcokan, pergumulan, duel, dan lain sebagainya. Bullying memiliki sifat intimidatif dominatif dari seseorang yang mempersepsikan diri lebih “kuat” terhadap yang “lemah”.  Praktek perilaku intimidatif dominatif tersebut dapat berupa pelecehan atau ancaman verbal, serangan fisik atau pemaksaan dan dilakukan berulang kali ke sasaran tertentu (pihak yang lemah). Rasionalisasi perilaku semacam itu terkadang mencakup perbedaan kelas sosial, ras, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, penampilan, perilaku, bahasa tubuh, kepribadian, reputasi, garis keturunan, kekuatan, ukuran, kemampuan intelektual, atau bahkan keterbelakangan mental. Bullying dilakukan orang per orang; jika praktek bullying dilakukan oleh sebuah kelompok orang maka hal itu disebut, by definition, mobbing.

Mobbing berasal dari kata “mob” yang bermakna (dictionary.com) diantaranya:

a crowd bent on or engaged in lawless violenceSekelompok orang yang terlibat tindakan kekerasan yang melawan hukum.

Jika kita merunut apa yang dilakukan oleh sekelompok orang yang ada  dalam video perundungan di salah satu PTS tersebut maka tindakan mereka sudah dapat dikategorikan sebagai “a crowd with lawless violence”, bukan tindakan individual lagi, atau dapat disebut “pengeroyokan” namun dengan tetap berlatar belakang persepsi “saya kuat (hebat), kamu lemah”. -- pelecehan keroyokan. Praktek intimidatif karena persepsi disparitas kekuatan ini tentu dapat terjadi dimana-mana.

Budaya intimidatif ini berkembang dalam konteks dimana manusia berinteraksi satu sama lain. Ini termasuk di dalam interaksi keluarga, tempat kerja, rumah, sekolah, dan tentu kampus-kampus. (AD/7/17)